TfClTSA0GfroTUC5GUd9TUC8BA==

HIDUP Serba Palsu di Negeri Konoha

 

Oleh: Masduki Duryat

KASUS pemalsuan spektakuler di Indonesia selain pengoplosan pertalite dan pertamax yang merugikan negara Rp193,7 Triliun pertahun.

 

Dengan motif mengoplos Ron 90 (pertalite) menjadi Ron 92 (Pertamax) kemudian diungkap oleh Kejagung dan menetapkan tujuh orang tersangka dalam kasus ini.

 

Pelanggan selama ini tertipu dengan membayar mahal belum lagi kerugian lain, misalnya pemeliharaan kendaraan.

 

Baru-baru ini seperti diberitakan salah satu TV Nasional, juga terungkap kasus pemalsuan emas yang dilakukan oleh PT Antam yang melibatkan enam petingginya menjadi tersangka kasus pemalsuan 109 ton emas.

 

Modusnya ditempel logo antam secara illegal dalam kurun waktu 2010-2021 diedarkan bersama produk Antam yang asli.

 

Pertanyaannya apakah dari 109 ton itu salah satunya adalah milik anda?

Kasus pemalsuan yang terjadi di Indonesia memang bisa mengungkapkan berbagai dimensi sosial, ekonomi, dan psikologis.

 

Beberapa contoh lain dari kasus pemalsuan spektakuler yang terjadi di Indonesia, serta analisis mengenai faktor pemicu yang melatarbelakangi kasus-kasus tersebut.

 

Kasus Pemalsuan Lainnya di Indonesia

Beberapa kasus pemalsuan yang terjadi di Indonesia antara lain:

 

Pertama, Kasus Pemalsuan Obat.

Kasus pemalsuan obat di Indonesia cukup sering terjadi, dengan banyak obat-obatan yang beredar di pasaran ternyata diproduksi secara ilegal. Pemalsuan ini berbahaya karena dapat menyebabkan efek samping serius pada kesehatan masyarakat. Pelaku biasanya memalsukan obat dengan harga murah untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi;

 

Kedua, Kasus Pemalsuan Surat Tanah (Sertifikat).

Pemalsuan sertifikat tanah juga cukup marak di Indonesia. Pelaku yang terlibat dalam kasus ini seringkali memanipulasi dokumen untuk mengalihkan kepemilikan tanah secara ilegal. Ini menjadi masalah besar karena berkaitan dengan legalitas kepemilikan tanah yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia;

 

Ketiga, Kasus Pemalsuan Tiket Pesawat.

Banyak juga terjadi kasus pemalsuan tiket pesawat yang dijual dengan harga lebih murah daripada harga normal. Pelaku biasanya mencetak tiket palsu dengan teknologi yang cukup canggih dan menjualnya melalui berbagai platform.

 

Motif Dibalik Kasus Pemalsuan

Secara umum, motif utama dari kasus-kasus pemalsuan ini adalah keinginan untuk mendapatkan keuntungan finansial secara cepat dan besar, dengan mengabaikan dampak negatif yang ditimbulkan. Selain itu, ada beberapa faktor yang lebih spesifik yang dapat menjelaskan mengapa pemalsuan ini bisa terjadi dalam skala besar:

 

Pertama, Kesejahteraan Ekonomi dan Ketimpangan Sosial.

Faktor ekonomi yang menjadi pendorong utama adalah ketimpangan sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat dengan tingkat kemiskinan yang tinggi dan kesenjangan ekonomi yang besar, pemalsuan sering dianggap sebagai cara cepat untuk memperoleh keuntungan. Ketika akses terhadap kekayaan terbatas, beberapa individu atau kelompok melihat pemalsuan sebagai jalan pintas untuk mencapai gaya hidup yang lebih baik;

 

Kedua, Gaya Hidup Konsumtif dan Ambisi.

Gaya hidup yang konsumtif, terutama di kalangan kalangan atas yang cenderung mengedepankan penampilan, bisa menjadi pemicu utama untuk melakukan tindakan ilegal. Keinginan untuk hidup mewah, memiliki barang-barang mewah atau mengakses fasilitas terbaik, sering kali menambah tekanan pada individu untuk memperoleh uang dengan cara yang salah. Gaya hidup ini sering dipicu oleh eksposur terhadap budaya konsumtif, baik melalui media sosial maupun media lainnya, yang menyiratkan standar hidup tinggi yang harus dicapai;

 

Ketiga, Mentalitas Jangka Pendek dan Rasa Tidak Cukup.

Banyak kasus pemalsuan juga dipengaruhi oleh mentalitas jangka pendek yang didorong oleh rasa tidak cukup. Pelaku mungkin merasa bahwa usaha mereka yang sah tidak cukup memberikan hasil yang cepat atau signifikan, sehingga mereka beralih ke jalan pintas. Mentalitas ini sangat berisiko, karena hanya berfokus pada keuntungan yang cepat tanpa memperhatikan konsekuensi jangka panjang, baik untuk diri sendiri maupun Masyarakat;

 

Keempat, Kelemahan Pengawasan dan Penegakan Hukum.

Pemalsuan besar-besaran juga didorong oleh kelemahan dalam pengawasan dan penegakan hukum. Jika sistem pengawasan lemah atau tidak ada tindakan tegas terhadap pelanggaran hukum, maka orang-orang dengan niat buruk akan merasa bahwa mereka dapat melakukan pemalsuan tanpa konsekuensi serius. Ini menciptakan kultur impunitas yang lebih besar, di mana pelaku merasa bebas untuk melakukan tindakan ilegal tanpa takut akan hukuman yang berat;

 

Kelima, Korupsi dan Ketidakjujuran di Dalam Organisasi.

Dalam kasus seperti pemalsuan emas oleh PT Antam, faktor korupsi dan ketidakjujuran dari pihak internal menjadi faktor besar. Petinggi perusahaan yang terlibat dalam pemalsuan emas ini mungkin termotivasi oleh ambisi pribadi untuk memperoleh keuntungan finansial yang besar atau untuk menutupi masalah keuangan dalam perusahaan mereka. Keberadaan praktik tidak jujur di level manajerial seringkali dapat memperburuk situasi dan melibatkan banyak pihak dalam tindakan kriminal tersebut.

 

Faktor Pemicunya: Kesejahteraan, Gaya Hidup, atau Mental?

Berdasarkan analisis, faktor-faktor yang memicu kasus pemalsuan di Indonesia dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama: kesejahteraan, gaya hidup, dan mental. Berikut adalah penjelasan mendalam tentang masing-masing faktor:

 

Pertama, Kesejahteraan: Ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi memainkan peran besar dalam banyak kasus pemalsuan. Ketika tingkat kesejahteraan masyarakat rendah, sebagian orang merasa terdesak untuk mendapatkan uang dengan cara cepat, meskipun itu melibatkan pelanggaran hukum. Pemalsuan bisa dilihat sebagai solusi untuk mendapatkan keuntungan finansial yang besar tanpa harus bekerja keras atau mengikuti aturan yang ada;

 

Kedua, Gaya Hidup. Gaya hidup yang penuh dengan tuntutan konsumerisme juga memicu perilaku pemalsuan. Banyak individu atau kelompok yang ingin mencapai status sosial tertentu, membeli barang mewah, atau menikmati fasilitas yang lebih baik, sering kali merasa tertekan untuk menempuh jalan pintas, seperti melakukan pemalsuan barang atau dokumen. Tekanan ini diperburuk oleh pengaruh media sosial yang sering kali menampilkan standar hidup yang tidak realistis;

 

Ketiga, Mental. Faktor mental juga menjadi pendorong yang kuat. Ketika seseorang atau sekelompok orang merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki atau tidak sabar untuk meraih kekayaan, mereka cenderung mengambil jalan pintas untuk mencapai tujuan mereka. Hal ini mencerminkan pola pikir yang lebih mengutamakan hasil instan dan kurang menghargai proses yang jujur. Selain itu, mentalitas “semua bisa dibeli” yang berkembang dalam masyarakat juga bisa membuat individu atau kelompok merasa bahwa memalsukan sesuatu adalah hal yang dapat diterima jika itu menguntungkan mereka.

 

Penutup

Kasus pemalsuan spektakuler di Indonesia mencerminkan sebuah masalah yang lebih kompleks yang berkaitan dengan ketimpangan sosial, standar hidup yang tidak realistis, dan masalah mentalitas yang mengedepankan keuntungan jangka pendek. Pemecahan masalah ini memerlukan pendekatan holistik, termasuk peningkatan kesejahteraan ekonomi, perubahan pola pikir, serta penegakan hukum yang lebih ketat untuk mencegah pemalsuan di masa depan. (*)

 

Artikel ini merupakan pendapat atau karya pribadi penulis. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih-Redaksi)

 

OLEH; MASDUKI DURYAT

Penulis adalah Rektor Institut Studi Islam Al-Amin Indramayu dan Dosen Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Tinggal di Kandanghaur Indramayu.

Komentar0

Simak artikel pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih kanal favoritmu! Akses berita Proinbar.com lewat:

Advertisement



Type above and press Enter to search.